Gizi ibu hamil

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu masalah gizi umum pada ibu hamil di Indonesia adalah

kekurangan kalori protein. Hal ini tercermin dengan kelahiran prematur

ataupun bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), di samping juga

angka kematian ibu hamil yang di hubungkan dengan kekurangan gizi

(Hanato wiryo, 2008). Status gizi ibu sebelom dan selama hamil dapat

mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status ibu

normal pada masa sebelum dan semasa hamil kemungkinan besar akan

melahirkan bayi yang sehat, cukup  bulan dengan berat badan normal.

Dengan kata lain kualitas bayi yang di lahirkan sangat tergantung pada

keadaan gizi ibu sebelum dan selama hamil (Zulhaida 2003).

Penyebab kekurangan gizi pada ibu hamil di Indonesia adalah

keadaan sosial ekonomi yang rendah,  derajat kesehatan fisik, asupan

pangan yang kurang dan adanya penyakit infeksi, kurang gizi sangat

dipengaruhi juga oleh pengetahuan masyarakat yang kurang, keadaan

sosial ekonomi dan kejadian penyakit. Apabila status gizi ibu buruk  baik

sebelum kehamilan dan selama kehamilan akan menyebabkan berat badan

lahir rendah (Supariasa, 2000). Status gizi ibu hamil di pengaruhi terhadap

resiko, diet, pengukuran antropometrik  dan biokimia. Penilaian tentang

asupan pangan dapat diperoleh melalui ingatan 24 jam (Arisman, 2004,

p.8). Maka gizi ibu yang kurang baik  perlu diperbaiki keadaan gizi nya

1 2

atau yang obesitas mendekati yang normal, yang di lakukan sebelum

hamil. Sehingga mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk

mendapatkan bayi yang sehat, serta untuk mempertahankan kesehatannya

sendiri (Arisman, 2004, p.8).

Salah satu cara untuk menilai  kualitas bayi adalah dengan

mengukur berat bayi pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan

bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizi berada pada tingkat

kondisi yang baik. Akibat kekurangan gizi pada ibu hamil akan

menyebabkan bayi prematur, keguguran, lahir mati dan BBLR. Disamping

itu, akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan otak janin, anemia

pada bayi baru lahir, bayi baru lahir  mudah terinfeksi. BBLR adalah bayi

baru lahir dengan berat badan lahir rendah  atau berat badan kurang dari

2500 gram pada waktu melahirkan bukan bayi premature (Mohtar, 2002).

Bayi yang mempunyai berat  badan lahir rendah akan

mengakibatkan mudah terkena afeksia, hipotermi, trauma kelahiran,

mudah terkena infeksi, hiperbilerubin dan hipoglekimia, selain itu juga

akan meningkatkan resiko kesakitan  dan kematian bayi karena rentan

terhadap infeksi saluran pernafasan bagian bawah, gangguan belajar,

masalah perilaku dan lain sebagainya

Secara keseluruhan di tingkat Provinsi Jawa Tengah cakupan

penanggulangan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) terus mengalami

peningkatan dari tahun 2004 sebesar 74,45% menjadi 90,86% pada tahun 3

2005 dan 99,54 pada tahun 2006 (Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang

2006).

Presentase bayi dengan berat badan lahir rendah di Provinsi Jawa

Tengah tahun 2006 sebesar 1,78%. Hal  ini tidak berbeda dengan tahun

2005 yang mencapai sebesar 1,74%. Ada kenaikan persentase kejadian

BBLR di provinsi Jawa Tengah sebesar 0,04% (Profil Dinas Kesehatan

Kota Semarang tahun 2006).

Bayi dengan berat badan lahir rendah yang berhasil di tangani di

Provinsi Jawa Tengah pada tahun  2006 sebesar 99,54% dengan kisaran

rentang antara yang terendah 95,92% dengan yang tertinggi mencapai

100%. Mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 yang mencapai

90,86%, (Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2006).

Bila dibandingkan dengan target bayi dengan berat badan lahir

rendah yang di tangani Provinsi  Jawa Tengah tahun 2005 sebesar 25%

maka seluruh kabupaten atau kota telah jauh melampaui target, bahkan ada

yang telah mencapai target 2010  sebesar 100% sebanyak 30 kabupaten

atau kota (85,71%) (Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2006).

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2008

menunjukkan jumlah bayi lahir hidup sebanyak 25.160 bayi.  Untuk kasus

bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2008 yaitu

sebanyak 135 bayi (0,54%), menurun  dari tahun sebelumnya yaitu 137

bayi (0,55%). Kurang gizi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan

pengetahuan masyarakat yang kurang, keadaan sosial ekonomi dan 4

kejadian penyakit. Sedangkan di Puskesmas bangetayu Semarang kejadian

bayi berat lahir rendah (BBLR) pada tahun 2009 sebanyak 30 kasus

(4,81%) dari jumlah 623 bayi lahir normal dan di temukan ibu hamil

dengan status gizi kurang sebanyak 74  kasus, dari 74 kasus ibu hamil

dengan status gizi kurang melahirkan 30 kasus (4,81%) berat badan lahir

rendah (BBLR).

Beberapa  upaya untuk menurunkan bayi dengan Berat Badan

Lahir Rendah antara lain : 1) Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara

berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan di mulai sejak umur

kehamilan muda, ibu hamil yang di duga beresiko, terutama faktor yang

mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, di pantau dan di

rujuk pada pelayanan kesehatan yang lebih mampu; 2) Pemanfaatan KIE

pada ibu hamil antara lain penyuluhan tentang kebutuhan gizi ibu hamil,

pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, resiko dari paritas

yang tinggi, tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri

selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin

yang dikandung dengan baik; 3) Hendaknya ibu dapat merencanakan

persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34 tahun); 4) Perlu

dukungan sektor lain yang terkait untuk turut dalam meningkatkan

pengetahuan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat

meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status

gizi ibu selama hamil (Badan Litbang Kesehatan, 2004). 5

Dan upaya untuk mencegah bayi BBLR agar tidak mengalami

hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan adalah : 1) Pengawasan

tumbuh kembang anak sejak lahir; 2) Pencegahan dan penanggulangan

dini penyakit infeksi melalui imunisasi dan pemeliharaan sanitasi; 3)

Pengaturan makanan yang tepat dan benar (Moehdji S, 2003 : 27).

Berdasarkan data diatas maka  penulis tertarik untuk meneliti

adakah “  Hubungan Antara Status  Gizi Ibu Hamil Dengan Kejadian

BBLR di Puskesmas Bangetayu Semarang Tahun 2010 ”.

B. Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan maka

perumusan masalahnya adalah “  Apakah Ada Hubungan Antara Status

Gizi Ibu Hamil Dengan Kejadian BBLR di Puskesmas Bangetayu

Semarang Tahun 2010? “.

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan umum

Untuk mengretahui antara status  gizi ibu hamil dengan kejadian

BBLR di Puskesmas Bangetayu Semarang Tahun 2010.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil di Puskesmas Bangetayu

Semarang

b. Untuk mengetahui kejadian BBLR di Puskesmas Bangetayu

Semarang 6

c. Untuk mengetahui hubungan status gizi ibu hamil dengan kejadian

BBLR di Puskesmas Bangetayu Semarang

D. Manfaat penelitian

1. Bagi tenaga kesehatan

Dapat digunakan untuk menentukan kebijakan serta meningkatkan

pelayanan kesehatan pada masyarakat, dapat digunakan sebagai bahan

untuk penyuluhan masyarakat mengenai pentingnya status gizi ibu

hamil dengan kejadian BBLR.

2. Bagi peneliti

Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan dapat mengetahui

hubungan status gizi ibu hamil dengan kejadian BBLR.

3. Bagi institusi

a. Sebagai referensi, bacaan dan pengarahan bagi peneliti kebidanan.

b. Dapat digunakan sebagai tambahan ilmu dan dasar untuk

melakukan penelitian lebih lanjut.

c. Melalui kader kesehatan diharapkan hasil penelitian ini dapat

menambah pengetahuan dan pemahaman ibu hamil tentang status

gizi ibu hamil.7

Keaslian penelitian  E.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s